Amich Alhumami,
  • UTU News
  • 23. 11. 2018
  • 0
  • 584

Di dalam dokumen perencanaan ditegaskan bahwa pembangunan pendidikan tinggi berorientasi pada upaya peningkatan empat hal esensial, yaitu: 1) Meningkatkan Pemerataan Akses Pendidikan Tinggi; 2) Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi; 3) Meningkatkan Relevansi dan Daya Saing Pendidikan Tinggi; dan 4) Meningkatkan Tata Kelola Kelembagaan Perguruan Tinggi.  

            Saat ini pendidikan tinggi dihadapkan pada serangkaian persoalan dalam keempat ranah tersebut; sementara itu, dunia terus berkembang dan bergerak dinamis, menghadirkan beragam tantangan yang memerlukan respons cepat dan tepat. Salah satu tantangan penting adalah Revolusi Industri 4.0, yang secara umum dipahami sebagai perubahan sangat cepat dan penuh disrupsi, cara kerja yang menitikberatkan pada pengelolaan data, pemanfatan big data, sistem kerja industri melalui pemanfatan teknologi digital, komunikasi dan peningkatan efisiensi kerja yang berkaitan dengan interaksi antarmanusia. Jelas, tantangan Revolusi Industri 4.0 harus dijawab dengan baik oleh perguruan tinggi, sebuah lembaga formal yang melahirkan orang-orang terdidik, para tenaga kerja terampil, kompeten, berkeahlian khusus, dan berdaya saing, yang harus siap menghadapi perubahan zaman yang berlangsung cepat, sekaligus menguasai teknologi untuk mendukung pencapaian kemajuan bangsa dan negara.

Iptek dan Keunggulan Suatu Negara

Keunggulan suatu negara tercermin pada penguasaan iptek, kapasitas inovasi, dan produktivitas ekonomi. Tingkat keunggulan suatu negara dapat diukur melalui dua hal penting: 1) knowledge index, mengukur kemampuan suatu negara dalam mengadopsi dan melakukan difusi Iptek untuk meningkatkan kemajuan bangsa; dan 2) knowledge economy index, mengukur bagaimana Iptek dijadikan sebagai kekuatan penggerak dan percepatan pembangunan ekonomi (SESRIC staff calculation 2012/2013; World Bank, KEI, and KI Indexes). Merujuk pada kedua indeks ini, posisi Indonesia belum dapat diketahui pasti berada pada peringkat berapa atau kategori mana; sementara negara-negara tetangga terdekat seperti Malaysia, Thailand, Taiwan, apalagi Korea Selatan, dianggap punya keunggulan dalam hal penguasaan Iptek dan pengembangan inovasi untuk menopang pembangunan ekonomi.

Perguruan tinggi harus menjalankan empat fungsi esensial secara bersamaan, yaitu: 1) Agen pendidikan: memberi layanan pendidikan bagi masyarakat; 2) Agen penelitian dengan bergiat dalam penelitian untuk melahirkan penemuan dan inovasi; 3) Agen transformasi kebudayaan dan Iptek dengan mendorong transformasi sosial-budaya serta transfer pengetahuan dan teknologi ke masyarakat dan industri; dan 4) Agen pembangunan sosial-ekonomi dengan menciptakan inovasi teknologi untuk mendorong akselerasi pembangunan dan meningkatkan daya saing nasional. 

Era Digital: Tantangan dan Peluang

Revolusi Industri 4.0 juga memuculkan tantangan baru, yang memerlukan kemampuan dan kemahiran teknikal. Menghadapi situasi demikian, SDM berkualitas yang menguasai Iptek dan punya kapasitas inovasi merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi. Perubahan industri di masa depan diperkirakan akan melahirkan permintaan terhadap jenis-jenis keterampilan baru. Terdapat lima keahlian atau keterampilan yang paling diminati oleh sektor industri pada tahun 2020 mendatang, antara lain, cognitive abilities, system skills, complex problem solving, content skills, dan process skills. Pertama, cognitive abilities fokus pada keterampilan Cognitive Flexibility, Creativity, Logical Reasoning, Problem Sensitivity, Mathematical Reasoning, dan Visualization. Kedua, system skills berarti kemampuan untuk dapat melakukan penilaian (judgement) dan keputusan dengan pertimbangan cost-benefit analysis, serta kemampuan untuk mengetahui bagaimana sebuah sistem dibuat dan dijalankan. Ketiga, complex problem solving yakni kemampuan untuk memecahkan masalah yang asing dan belum diketahui solusinya di dunia nyata. Keempat, content skills yang berkaitan dengan kompetensi dan keterampilan pada konten pekerjaan di sektor industri bersangkutan. Kelima, process skills yakni kemampuan yang terdiri dari active listening, logical thinking, dan monitoring self and the others.

            Dalam rangka mempersiapkan dosen-dosen yang mampu menghadapi Revolusi Industri 4.0, perlu penguatan kualifikasi dengan kompetensi inti keilmuan, antara lain: kompetensi pendidikan, kompetensi penelitian, kompetensi untuk bisnis digital, kompetensi menghadapi globalisasi, serta kompetensi dalam strategi masa depan. Perlu juga dikembangkan peran ideal dosen, antara lain, teladan karakter, memiliki pengalaman, teman bagi mahasiswa, memiliki wawasan kebangsaan dan komitmen kuat keutuhan sebuah bangsa, mampu menginspirasi mahasiswa, dan memiliki passion sebagai dosen.

            Dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan, perguruan tinggi juga perlu mengubah pendekatan pembelajaran dari expository learning approach ke discovery learning approach. Perubahan pendekatan pembelajaran ini sejalan dengan pengembangan kurikulum yang terus-menerus dilakukan penyesuaian, agar selaras dengan perkembangan mutakhir dan mengikuti dinamika kehidupan masyarakat modern (baca: kurikulum abad ke-21). Para lulusan dengan keterampilan yang sudah berada di tingkat menengah atau tinggi ketika masuk ke industri adalah target ideal perguruan tinggi.

 SDM dan Daya Saing Indonesia 

Daya saing SDM Indonesia di tingkat global yang diukur melalui Human Capital Index masih perlu ditingkatkan. Meskipun peringkat Indonesia meningkat dari 72 pada tahun 2016 menjadi 65 pada tahun 2017, posisi negara kita masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, apalagi Singapura. Empat dimensi yang diukur dalam Human Capital Report 2017 adalah dimensi pencapaian pendidikan formal, partisipasi dalam angkatan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan know-how untuk masyarakat dalam kelompok usia kurang dari 15 tahun, 15-24 tahun, 25-54 tahun, 55-64 tahun, dan lebih dari 65 tahun. Untuk itu, investasi pendidikan perlu diarahkan pada upaya untuk membenahi sistem pendidikan tinggi berbasis keahlian dalam mempersiapkan SDM berkualitas sesuai tuntutan Revolusi Iindustri 4.0.

Pemerintah akan fokus pada sejumlah kebijakan dasar di bidang pendidikan tinggi, antara lain: 1) Meningkatkan investasi untuk pengembangan digital skills dalam proses pembelajaran; 2) Memperkuat kolaborasi antara dunia industri, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan keterampilan bagi era digital di masa depan; 3) Reformasi kurikulum dan pembelajaran yang mencakup materi terkait human-digital skills; dan 4) Mengembangkan kemitraan universitas dan sektor industri untuk program riset dan pemagangan dalam rangka peningkatan kualitas lulusan sejalan dengan kebutuhan keterampilan digital.

Sumbangan UTU pada Pembangunan Daerah

            Peningkatan kualitas SDM melalui layanan pendidikan tinggi di Universitas Teuku Umar (UTU) penting dan diperlukan, untuk meningkatkan peran UTU dalam pembangunan di wilayah Aceh. Dalam hal ini, UTU harus berperan dalam penyediaan SDM yang bermutu dan menguasai Iptek, serta para tenaga kerja terampil menurut bidang keahlian yang dibutuhkan di daerah. Dalam konteks pengembangan wilayah, UTU dituntut lebih berkontribusi dalam menggerakkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di daerah. UTU perlu menetapkan bidang-bidang keahlian dan bidang ilmu yang menjadi unggulan sesuai dengan konteks dan kebutuhan pembangunan. Dengan menetapkan bidang-bidang keahlian dan bidang ilmu unggulan, UTU diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam pengembangan perekonomian kawasan, dengan melahirkan lulusan-lulusan berkualitas untuk menopang pengembangan industri strategis di wilayah Aceh. Untuk itu, UTU perlu terus didorong untuk dapat mengembangkan program studi inovatif, terutama bidang ilmu sains dan keteknikan, yang berkontribusi pada pembangunan nasional dan pembangunan daerah. [***]

Orasi ilmiah ini disampaikan oleh Amich Alhumami pada Dies Natalis ke-12 Universitas Teuku Umar, 12 November 2018.

Amich Alhumami, MA, M.Ed., Ph.D adalah: Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas

Lainnya :