Prof. Jasman: Agro and Marine Industry Jadi Mata Kuliah Wajib Bagi Mahasiswa UTU
  • UTU News
  • 10. 11. 2018
  • 0
  • 359

MEULABOH –Dalam rangka penerapan kurikulum pendidikan tinggi yang mengacu pada KKNI dan sesuai standar nasional pendidikan tinggi, Pimpinan Universitas Teuku Umar (UTU) mengadakan  Simposium Nasional Kurikulum Agro and Marine Industries, ’Solusi Cerdas Mencapai Kedaulatan Pangan’. Simposium nasional yang menghadirkan 12 nasasumber itu, dilaksanakan di Aula Meuligoe Hotel-Meulaboh, 9 November 2018.

Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA dalam penyampaiannya mengatakan, Simposium Nasional ini diadakan untuk penyusunan silabi (silabus) mata kuliah agro and marine industry (industry berbasis agro dan marine). Silabi itu disusun untuk menghasilkan sebuah mata kuliah yang kokoh yang bisa menjadi mata ajar pada seluruh program studi yang ada pada  semua Fakultas Universitas Teuku Umar.

“Agro and marine industry merupakan mata kuliah yang diberlakukan ditingkat Universitas Teuku Umar (UTU) dan semua mahasiswa yang kuliah di UTU, mulai tahun akademik 2019/2020, tahun pertama kuliah wajib mendapatkan mata kuliah tersebut. Mata kuliah ini sesuai dengan  core product (pola pokok ilmiah) UTU adalah agro and marine industry”, ujar Prof. Jasman.

Prof. Jasman menegaskan, setiap mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah tersebut, dengan maksud supaya mahasiswa akan lebih tau sebenarnya kemana arah dan orientasi lapangan kerja atau berwirausaha setelah selesai memperoleh ilmu dari UTU. “Karena mata kuliah tersebut akan berlaku tahun depan, maka diundanglah secara nasional para narasumber dari berbagai universitas ternama di Indonesia dengan beragam latar belakang ilmu pengetahuan untuk berbicara pada simposium nasional, agar bisa menghasilkan silabus yang tepat, kuat sesuai dengan kebutuhan kita di UTU saat ini”, ujar Prof. Jasman.

“Ketika bicara mengenai industry, berarti sudah berbicara soal lingkungan. Oleh karena itu, diharapkan mata kuliah ini bisa menjelaskan dari hulu kehilir dalam proses pembelajaran.  Hulunya dimulai bagaimana mahasiswa bisa mendapatkan pengetahuan tentang budidaya, baik budidaya perikanan maupun budidaya pertanian serta bagaimana memprosesnya. Untuk itu, dasar-dasar prosesing tersebut  misalnya, mengenai teknologi hasil pertanian perlu diajarkan, dipahami dan diketahui dengan baik. Intinya mahasiswa harus mengetahui format tersebut.

Setelah itu, baru kehilir yang berhungan dengan lingkungan dan pasar. Bagaimana memahami pasar untuk agro and marine. Produk olahan dari agro and marine serta hasil dari industry, hasil budidaya itu diproses,  diolah lalu dipasarkan. Untuk itu, mengenai hulu kehilir itu harus diajarkan tentang agro and marine industry secara menyeluruh sehingga mahasiswa lebih mengetahui komponen-komponen yang dibahas dalam mata kuliah tersebut dengan waktu 16 kali pertemuan dalam satu semester.

Simposium Nasional tersebut dibiayai sepenuhnya oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti. “Simposium ini mendapat respon sangat baik dari pihak Belmawa karena dinilai sejalan dengan program Belmawa Kemenristekdikti”, ujar Herdi Susanto, ST.,MT, Ketua Penjaminan Mutu Universitas Teuku Umar.

12 narasumber  symposium nasional itu adalah Dr. rer.nat. Chaidir, Apt (dari BPPT), Dr. Agus Setywan, Eng, S.Si.,M.Si (dari Undip), Dr. Moh. Khusaini, SE.,M.Si, MA (dari UB), Dr. Hendri Bustamam, Dr. Syahril Chaniago, M. Si (dari Ristekdikti), Dr. Aji Hermawan (dari IPB), Eddy Junarsin, MBA, Ph.D (dari UGM), Adeng Pustikaningsih, SE, M.Si (dari UNY), Dr. Muhammad Rizal (dari UTU), Ir. Kridanto Surendro, Ph.D (dari ITB), Dr. Indra Budi, M. Kom (dari UI) dan Dr. Taufik Fuad Abidin, M. Tech (dari Unsyiah). (Zakir)

Lainnya :