Rektor Prof. Jasman Lantik Muslim Raden Sebagai Kepala Biro Akademik UTU
  • UTU News
  • 08. 01. 2019
  • 0
  • 622

MEULABOH – Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. H. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA, melantik  Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama (AKPK) Universitas Teuku Umar, yang baru Drs. H. Muslim Raden, M.Si. Pengangkatan Muslim Raden itu menggantikan pejabat lama, Burhanuddin, SE yang telah memasuki masa pensiun.

Pelantikan Pimpinan Tinggi Pratama Kepala Biro AKPK Universitas Teuku Umar, berlangsung di Aula Utama UTU, 8 Januari 2019, pukul 15.oo Wib. Hadir pada acara pelantikan pejabat baru tersebut Wakil Rektor I-UTU, Dr. Ir. Alfizar, DAA, Wakil Rektor II-UTU, Dr. Ishak Hasan, M.Si, Kepala Biro Umum dan Keuangan, Mawardi Amin, SE, Ak, mantan pejabat lama Kepala Biro AKPK-UTU, Burhanuddin, SE, Para Dekan, Wakil Dekan I dan II, Para Ketua Program Studi, serta sejumlah dosen, Kepala-Kepala Bagian  dan tenaga kependidikan (tendik)  dalam lingkup Universitas Teuku Umar.

Pelantikan Kepala Biro AKPK yang berlangsung tertib dan penuh khidmat itu, dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat kepada Muslim Raden yang dimulai dari Rektor Prof. Jasman dan diikuti oleh para pejabat, dosen serta tendik yang berhadir lainnya.

Rektor Prof. Jasman dalam arahannya menyampaikan apresiasi dan selamat kepada Muslim Raden sebagai Kepala Biro AKPK-UTU yang baru, sehingga diharapkan dapat bersinergi dengan baik dan loyal kepada pekerjaan untuk kemajuan lembaga pendidikan UTU ke depan  dan mengucapkan terima kasih kepada Burhanuddin yang telah bekerja dengan baik dan sukses berbakti selama ini di UTU.

Sebagai gambaran dan membuka wawasan kepada para pejabat pengelola UTU, Prof. Jasman mengatakan, kita hari ini berada pada posisi yang sangat kompleks,  dunia perusahaan membutuhkan sarjana yang memilki skill bukan mengandalkan ijazah. Ini adalah tamparan besar kepada perguruan tinggi dan universitas dunia, apalagi Universitas Teuku Umar (UTU). “Ini pertanda sesuatu yang perlu dicermati,  kanapa hal ini bisa terjadi. Dengan mengamati fenomena baru sekarang ini, justru orang-orang yang sukses  dan yang kaya raya itu ternyata bukan seorang sarjana,  katakanlah Bill Gates misalnya.

Prof. Jasman menyebutkan, rata-rata di dunia ini pengangguran sarjana itu telah mencapai 10 persen, di Amerika Serikat  saja sarjana yang menganggur mencapai 11 persen. Aceh-Indonesia 8,8 persen. Sarjana yang menganggur semakin hari semakin tinggi.  Untuk itu, Kepala Biro AKPK, Muslim Raden dan semua pejabat pengelola UTU  perlu menjadi perhatian serius terhadap kondisi tersebut karena tantangannya sangat besar.

“Kita di UTU ini tidak boleh lagi berpikir asal melahirkan sarjana, bisa berdosa kita. Kenapa kita berdosa? karena kita menghasilkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dihasilkan, artinya menghasilkan sarjana tetapi tidak punya kompetensi. Ini merupakan tantangan besar yang  harus segera dijawab”, tegas Prof. Jasman.

Sekarang perguruan tinggi terus mengejar dan mendorong para dosen untuk menulis dan memasukkan artikel ilmiahnya di jurnal internasional (scopus). Apakah dengan banyaknya artikel dengan standar scopus yang tinggi tersebut bisa menjamin dan memperbaiki lulusan kita?  maka perlu saya tegaskan kepada Kepala Biro AKPK dan semua pejabat di UTU, bahwa sarjana yang bisa berkembang dan bisa lolos bekerja di perusahaan-perusahaan adalah sarjana yang kreatif dan inovatif.

Namun, yang menjadi tanda Tanya besar, dalam undang-undang sistim pendidikan nasional ternyata tidak terdapat satupun kata-kata inovasi dalam uraiannya. Sementara perguruan tinggi dituntut harus menghasilkan sarjana yang kraetif dan inovatif. Kreatif dan inovasi tidak sama. Kreatif adalah suatu proses pemikiran terhadap sesuatu yang baru yang akan dihasilkan. Sedangkan inovasi adalah hasil dari pemikiran itu yang di kembangkan lalu diwujudkan. Kreatif dan inovatif menjadi tanggungjawab bersama, sarjana kita di UTU ini harus kita dorong supaya mereka bisa lebih kreatif dan berinovatif. Salah satu bentuk kreatif dan inovatif kepada mahasiswa yang sudah  kita lakukan di UTU adalah melahirkan kegiatan lomba UTU Awards setiap tahun dan sudah berjalan selama 4 tahun.

“Kenapa lomba UTU Awards kita programkan? produk kita adalah sarjana yang kreatif, inovatif dan berkualitas. Lihat saja, para ilmuan sebagai penemu seperti Thomas Alva Edison, Albert Enstern adalah orang-orang kreatif dan inovatif”, papar Prof. Jasman. Untuk itu, langkah-langkah yang harus ditempuh adalah  kita harus merombak format pendidikan kita, cara berpikir kita, format pendidikan kita di UTU ini dalam usaha menghasilkan sarjana yang siap pakai dan berkualitas. Dan Ini harus menjadi pemikiran awal yang musti kita bahas dan kita diskusikan dengan serius. Kita harus mampu menghasilkan sarjana yang berkualitas, kreatif, dan inovatif dengan memiliki semangat berwirausaha (entrepreneurship) yang tinggi. (Zakir) 

Lainnya :